Dinamika Pemuda Terkini

Oleh : Argyo Demartoto

Era Orba yang tenggelam dan tergan-tikan dengan era baru yang dikenal dengan reformasi telah membawa serta perubahan sebagai suatu simbol penting. Simbol tersebut makin kentara dengan munculnya perubahan tatanan sosial politik bangsa ini. Pemuda menjadi salah satu pihak yang menuai dampak adanya perubahan tersebut. Pemuda kini, tidak sepenuhnya lagi terkungkung dalam perspektif patologi dimana mereka akrab dikaitkan pada isu-isu yang lebih bernilai negatif di mata masyarakat ketimbang nilai positif. Dapat dipahami demikian, karena pada perspektif tersebut menggambarkan pemuda dengan unconventional behavior of youth, e.g. deliquency, etc- are explained as the failure of society to integrate young people into adult world (Lanuza, 2004 : 7). Adanya perspektif pemuda lain selain patologi yaitu perspektif agensi menjadi pesan penting yang coba dikomunikasikan buku ini. Dengan maksud melalui lensa perspektif agensi dapat memperlihatkan pemuda sebagai seorang subjek yang me-nempati suatu posisi dan peran tertentu dalam suatu setting sosial.

Kajian terkait pemuda yang tidak begitu sering diangkat secara mendalam dan kritis, justru dapat disajikan buku ini dengan cukup mendalam dan tetap berimbang makin menjadikan isu kepemudaan menarik untuk dicermati. Salah satu isu kepemudaan yang begitu menarik perhatian yakni pemuda sebagai aktor dan sepak terjang mereka dalam suatu transformasi. Di dalam diri pemuda kini tidak lagi tersemat suatu identitas tunggal layaknya semasa Orba, melainkan identitas yang begitu beragam. Sebagai aktor yang aktif, pemuda pasca Orba melakukan tindakan – tindakan dalam upayanya melalui perubahan dengan nego-siasi. Hal tersebut selaras dengan pemuda yang ditilik perspektif agensi, karena agen­si oleh Giddens (dalam Jones, 2009: 240) ditafsirkan sebagai kondisi-kondisi struk-tural dimana tindakan manusia diwujudkan. Dengan demikian hal tersebut menunjukkan

 

bahwa sebenarnya terkait dengan fenomena yang terjadi pemuda selalu melakukan negosiasi, baik terkait posisinya sebagai warga negara yang berhubungan dengan negara” yaitu terkait rezim politik maupun sebagai seorang individu yang berkaitan erat dengan pasar yang menjadi mediator kekuatan kapitalisme global.

Buku yang merupakan kumpulan tu-lisan mengenai pemuda ini terbagi atas 4 bagian isu-isu penting, dan isu pertama adalah Pemuda dalam Perspektif. Bagian ini menyuguhkan berbagai tema terkait politik (Bab 2), demokratisasi (Bab 3 dan 4) dan radikalisme agama (Bab 5). Interaksi antara muda(i) dengan politik pasca Orba menjadi bahasan yang menonjol. Kejelian dan bahkan perjuangan pemuda(i) dalam mencari ruang – ruang baginya di tengah demokratisasi masa reformasi masih diperlukan karena masih adanya kepentingan oligarki yang menjadi bayangan hitam demokrasi. Wujud perjuangan tersebut adalah keterlibatan aktif kaum muda(i) dalam ranah politik ataupun melakukan kontrol melalui berbagai gerakan politik yang sifatnya horizontal menjadi alternatif tindakan yang dapat mereka laku-kan. Dunia pemuda(i) kini dihiasi peran dominan kekuasaan negara dan peran penting pasar global yang memberikan bentuk tipe ideal bagi kaum muda(i). Oleh karena itu, politik kaum muda(i) sendiri pada akhirnya menerima pengaruh besar dari keduanya.

Pada bagian kedua, Pemuda sebagai Gerakan Sosial berisi tulisan-tulisan ter­kait gerakan koperasi (Bab 6), gerakan perdamaian (Bab 7), modal sosial dalam pemulihan bencana (Bab 8) dan gerakan terkait keagamaan (Bab 9). Pemuda meng-alami kondisi yang juga sulit dengan meng-hadapi kepentingan berbagai pihak yang tidak sejalan, seperti gerakan koperasi dan pemulihan pasca bencana yang harus di-hadapkan pada kepentingan negara terhadap kaum muda atau upaya kreatif pemuda sendiri dalam melewati tantangan sesuai situasi yang

 

paling aktual. Sementara itu, pemuda juga mengalami fenomena yang sangat kontras. karena di satu sisi kemampuan dan sumber daya yang dimilikinya berkontribusi dalam memelihara perdamaian dan di sisi lain juga mampu memberikan andil menghadirkan kekerasan. Selain itu, keikutsertaan dan keaktifan pemuda dalam gerakan perdamaian juga memiliki arti ganda, yaitu gerakan perdamaian itu sendiri dan sebaliknya gerakan yang sifatnya radikal. Pada akhirnya. pilihan menjadi pejuang perdamaian atau justru menjadi radikal merupakan pilihan pemuda itu sendiri yang juga buah dari proses panjang terkait identitas dan agensi mereka.

Pemuda, Perubahan Sosial dan “Agensi” merupakan isu lain yang juga dibahas dalam buku ini. Isu seputar pemuda dan perubahan coba digambarkan melalui tulisan pemuda dan perubahan di pedesaan (Bab 13), terkait pemuda kehidupan berorganisasi Karang Taruna (Bab 14) dan pemuda dan migrasi khususnya terkait kaum urban (Bab 16). Dari tulisan-tulisan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan pemuda dalam perubahan tidak semulus yang dibayangkan karena akrab dengan gejolak. Sementara itu, itu sisi fenomena pemuda sebagai agensi juga dalam beberapa kasus yang diangkat seperti pemuda yang terstigma (Bab 10). gengster siswa sekolah (Bab 11), kelas dan upaya menuju kedewasaan sosial (Bab 15) dan bahkan menampilkan kasus terkait gaya hidup sebagai musisi Jazz (Bab 12). Gambaran penting yang coba diberikan tulisan-tulisan tersebut bahwa dalam kaitan sebagai agensi, pemuda sudah selayaknya untuk siap menghadapi kompleksnya iden­titas diri dan identitas kelompok mereka.

Bagian terakhir pada buku ini mem-bahas isu Pemuda, Gender dan Kebijakan Sosial yang terdiri dari tulisan mengenai konsensus pemuda tanpa narkoba (Bab 17) dan Ketimpangan gender pemuda dalam berpacaran (Bab 18). Tulisan mengenai

 

 

 

pemuda dan narkoba memperlihatkan des-kripsi terkait pemuda dan kebijakan sosial. Sesungguhnya pemuda memiliki kapasitas dan upaya yang dapat mereka lakukan dalam rangkapencegahanpenyalahgunaannarkoba, namun pihak lain di masyarakat justru banyak yang meragukannya. Tulisan tersebut memberikan keyakinan bahwa pemuda yang selama ini hanya dikenal sebagai korban atau budak narkoba sebaliknya menyimpan kekuatan besar untuk melawannya, apalagi dengan dukungan masyarakat sepenuhnya. Tema pemuda dan gender mendapatkan gambaran nyata dari hubungan berpacaran yang acapkali memperlihatkan relasi gender yang begitu timpang dan diwarnai hadir-nya kekerasan. Dalam kasus tersebut, per-empuanlah yang sering menjadi obyek ke-timpangan ketimbang laki-laki. Terlepas semua itu,tulisan ini menekankan hal yang kiranya perlu dicamkan semua orang bahwa maskulinitas dan femininitas bukanlah ko-drat dari Tuhan melainkan hasil dari pro­ses panjang konstruksi sosial budaya ma­syarakat.

Buku ini mampu memoles hingga me-nyuguhkan pemuda(i) dan dunianya tidak saja menarik untuk dicermati namun juga menjadi bahan diskusi kalangannya sendiri dan pihak lainnya. Buku ini sangat ber-potensi di kemudian hari mampu meng-undang kepedulian besar berbagai pihak terhadap kaum muda(i). Hal tersebut tidak terlepas kemampuannya dalam menyan-dingkan pemuda dengan isu-isu terkini dan strategis atau mendapat perhatian lebih se-perti: agensi dan perubahan sosial, gerak-an sosial, gender serta radikalisme. Meski-pun begitu, sayangnya tidak seluruh isu dapat diperkuat dengan data-data yang valid, seperti dalam upayanya menggugat anggapan umum pemuda yang diidentikkan dengan kekerasan. Selain itu, pembahasan terkait radikalisme pemuda lebih lengkap dibahas yang terkait keagamaan dan yang terkait politik justru masih kurang. Jika

 

menilik karya Arbi Sanit yang juga terkait politik Pasca Orba dengan judul Reformasi Politik secara mendalam dan begitu detail membahas radikalisme politik yang mem­berikan pola terkait gerakan pembaharu politik secara radikal yaitu golongan me-nengah dengan motor intelektual dan ma-hasiswa, gerakan pembaharuan politik ra­dikal Islam dan golongan pembaharuan politik radikal masyarakat pinggiran (Sanit, 1998: 17). Secara keseluruhan buku ini sa­ngat menarik dan begitu bermanfaat karena memberikan gambaran layaknya peta dan petunjuk tentang bagaimana dunia kaum muda(i) terkini hingga bagaimana mema-haminya.

 

 

Daftar Pustaka

Jones,  Pip. 2009. Pengantar Teori-Teori Sosial: dari Teori Fungsionalisme hingga Post-Modernisme. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Lanuza, Gerry. 2004. The Theoritical State of Philipine Youth Studies, Current Trends and Future Directions. Young Nordict Journal of Youth Research. Vol 12 (4). Sage Publications

Sanit, Arbi. 1998. Reformasi Politik. Yog-yakarta: Pustaka Pelajar.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Skip to toolbar