Pengamat: Solo Jadi Tempat Nyaman Bagi Kelompok Radikal

Kamis, 13 Desember 2012 15:13 WIB | Indah Septiyaning W/JIBI/SOLOPOS

http://www.solopos.com/2012/12/13/pengamat-solo-jadi-tempat-nyaman-bagi-kelompok-radikal-357564

SOLO — Kota Solo dinilai tempat paling nyaman untuk pengembangan ideologi kelompok radikal atau terorisme. Hal ini terbukti dengan segala  rentetan penangkapan terduga teroris di Kota Bengawan.

Demikian disampaikan Dosen Sosialogi Universitas Sebelas Maret (UNS) Argyo Demartoto dalam Seminar Nasional bertema “Urban Terorism” dengan judul Pengaruh Gerakan Terorisme bagi Ketahanan Masyarakat Kota dalam kajian Sosiologi Perkotaan yang digelar di Aula Fakultas Hukum UNS, Kamis (13/12/2012). Hadir sebagai pembicara Ketua Prodi Sarjana Sosiologi UGM Muhammad Majid Asca dan peneliti serta analis teroris Noor Huda Ismail.

Argyo mengatakan belakangan aksi terorisme yang terjadi di Indonesia mengarah pada daerah perkotaan, termasuk Solo. Bahkan Solo menjadi basis kelompok dan jaringan terorisme tersebut. Hal ini terbukti dengan penangkapan terduga teroris oleh Densus 88. “Fakta itu menarik untuk dikaji lebih dalam. Wilayah perkotaan tidak saja menjadi sasaran aksi terorisme, bahkan menjadi tempat nyaman bagi mereka menyebarkan ideologi ke kelompoknya,” katanya.

Saat ini, dia mengatakan terorisme merupakan tindakan kejahatan dan ancaman serius terhadap keutuhan dan kedaulatan bangsa. Munculnya beragam aktivitas kelompok radikal di perkotaan, lanjut dia, terjadi karena karakteristik masyarakat kota cenderung individual dan egoisme.

Mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Hal-hal inilah alasan mengapa terorisme menjadi risiko nyata bagi masyarakat perkotaan. Dikatakannya, terdapat keterkaitan erat terorisme dengan perkotaan. Wilayah perkotaan, termasuk Solo menjadi sasaran dan basis jaringan para teroris.

Ihwalnya, dia menambahkan terorisme menimbulkan dampak bagi masyarakat.

“Dampak negatif berupa kerusakan fisik, mental, sosial masyarakat dan merusak sektor pariwisata,” katanya.

Noor Huda Ismail mengatakan selama ini Solo menjadi safe based atau wilayah aman bagi kelompok tertentu di Indonesia. Alhasil Solo seakan-akan menjadi rumah nyaman bagi banyak kelompok di antaranya Laskar Umat Islam Solo (LUIS), tim Hisbah, Front Perjuangan Islam Solo (FPIS), MMI Solo, Majelis Tafsir Alquran (MTA), Forum Komunikasi Aktivis Masjid (FKAM), HTI dan lain sebagainya.

“Mereka bergerak bersama-sama dan sangat kompak dalam merespons isu yang menyangkut kepentingan umat Islam. Kekompakkan juga terlihat pada keseharian mereka dalam mengikuti ta’lim,” katanya.

Begitu pula, imbuh dia, organisasi jihad seperti JI dan JAT yang memiliki basis kuat di Solo. JI dengan memiliki ribuan anggota dibawah kendali wakalah pernah punya masa keemasan pada 1996-2003 di Solo. JAT selaku ikon baru gerakan jihad menjadi symbol perlawanan yang juga mendapat dukungan dari ribuan anggota serta simpatisan di Solo.

“Noordin M Top pun beberapa kali menggunakan Solo sebagai basis rekrutmen dan persembunyian serta persinggahan,” imbuhnya.